Sumber : Khotbah Jum'at Masjid Baitul Muslimin Sumbersari Bantul 05 September 2014, Khotib Bp Muslimin

Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya,
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan
rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk." (QS. al-Baqarah:155-157)
Kita Milik Allah dan Kembali Kepada-Nya
Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya
adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan akan kembali kepada-Nya maka dia akan
terhibur tatkala tertimpa musibah. Kalimat istirja' ini merupakan penyembuh dan
obat paling mujarab bagi orang yang sedang tertimpa musibah. Dia memberikan
manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktu yang akan datang. Kalimat
tersebut memuat dua prinsip yang sangat agung. Jika seseorang mampu
merealisasikan dan memahami keduanya maka dia akan terhibur dalam setiap
musibah yang menimpanya.
Dua prinsip pokok tersebut adalah:
Pertama; Bahwasanya manusia, keluarga dan harta pada
hakikatnya adalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dia bagi manusia tidak lebih
hanya sebagai pinjaman atau titipan, sehingga jika Allah subhanahu wata’ala
mengambilnya dari seseorang maka ia ibarat seorang pemilik barang yang sedang
mengambilnya dari si peminjam.
Ke dua; Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba
adalah kepada Allah Pemilik yang Haq. Dan seseorang sudah pasti akan
meninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah subhanahu wata’ala sendiri-sendiri
sebagaimana ketika diciptakan pertama kali, tidak memiliki harta, tidak membawa
keluarga dan anak istri. Akan tetapi manusia menghadap Allah dengan membawa
amal kebaikan dan keburukan.
Musibah Menimpa Semua Orang
Merupakan obat yang sangat bermanfaat di kala musibah sedang
menimpa adalah dengan menyadari bahwa musibah itu pasti dialami oleh semua
orang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan didapati di sana orang yang
sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana ada orang yang
sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang berakal kalau mau
memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali di sana pasti
ada ujian hidup, entah dengan hilanganya barang atau orang yang dicintai atau
menemui sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.
Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur
atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orang tersenyum
sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang. Jika ia membuat
bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka sepanjang tahun. Kalau hari ini
memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah
suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula
dengan duka.
Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran
Termasuk Obat ketika tertimpa musibah adalah dengan
mengetahui bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar
dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnya kesabaran
akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan, rahmat dan hidayah
yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan
istirja' (mengembalikan urusan kepada Allah).